oke

Selasa, 03 Maret 2015

Asal mula Desa Sawoo

Cerita ini adalah cerita asal-usul gunung bayangkaki dan petilasan Kumbul yang ada di kecamatan Sawoo Ponorogo yang saya kutip dari sebuah buku yang berjudul “Mengenal Potensi dan Dinamika Ponorogo” 1993, dan gambar saya ambil dari google earth yang tampak dari atas. Semoga cerita ini dapat menambah wawasan kita tentang sejarah asal-usul suatu daerah dan tempat. Selamat membaca.”
Alkisah, seorang pengembara bernama Eyang Kalipo Kusumo dari keraton Kartasuramengadakan perjalanan ke wilayah timur, disertai beberapa orang pengikutnya. Setelah beberapa saat mengembara di wilayah timur, beliau timbul hasrat untu melaksanakan semedi di wilayah pegunungan. Dari sekian banyak gunung yang berada di wilayah timur, Eyang Kalipo Kusumo tertarik dengan sebentuk gunung yang agak aneh. Yakni, bentuknya selalu jika dilihat dari sudut pandang yang berlainan. Maka berangkatlah Eyang Kalipo Kusumo bersama pengikutnya ke gunung tersebut.
Di suatu tempat, Kalipo Kusumo beristirahat. Sesekali lagi beliau memandang gunung itu, namun kali ini dengan pandangan yang tajam (
mandeng, bahasa jawa). Dari peristiwa tersebut, tempat beristirahat itu kemudian diberi nama Ngindeng, yang kini dikenal dengan nama DESA NGINDENG.

Setelah beristirahat sejenak, Kalipo Kusumo meneruskan perjalanan mendaki gunung. Namun belum sampai tujuan, beliau tidak kuat lagi berjalan. Oleh ketiga pengikutnya, yakni Hadi Ronggo, Hadi Mulyo dan Hadi Dumeling, Kalipo Kusumo pun dibayang (digotong) menuju ke sebuah gua dilereng gunung. Di gua itulah Kalipo Kusumo melaksanakan semedinya, dan sekaligus menghabiskan sisa umurnya. Pada ketiga orang pengikutnya, Kalipo Kusumoberpesan, agar kelak dimakamkan di puncak gunung tersebut. Ketika kalipo Kusumo wafat, ketiga orang pengikutnya lalu menuruti wasiat terakhir gurunya. Perjalanan membawa jenazahKalipo Kusumo itu cukup berat. Dengan kondisi jalan setapak dan lereng yang terjal, mereka membawa jenazah dengan cara dibayang antara kakai dan kepala jenazah. Dan peristiwa tersebut gunung itu kemudian diberi nama GUNUNG BAYANGKAKI.

Sedangkan petilasan
 Sunan kumbul yang terdapat di desa Sawoo bermula dari huru-hara di Keraton Kartasura. Penguasa Kaerasura pada waktu itu, Eyang Suseno merasa terpojok karena tak mampu mengembalikan hutang pada bangsa Cina. Suseno mempunyai kebiasaan yang buruk, yakni gemar menghisap candu yang diperolehnya dengan cara hutang kepada bangsa Cina. Makin lama hutang itu makin membengkak. Bahkan bangsa Cina menuntut sebagian tanah keraton untuk pengembalian hutang.
Dalam keadaan terdesak,
 Suseno melarikan diri kearah timur untuk mencari saudaranya,Kalipo Kusumo, yang sedang pergi mengembara. Singkat cerita kedua orang bersaudara itu bertemu digoa tempta pertapaan Kalipo Kusumo. Dalam pertemuan itu Suseno menceritakan semua persoalannya, bahkan mengharap agar Kalipo Kusumo segera pulang ke Kartasura, menggantikan kedudukannya sebagai raja. Namun Kalipo Kusumo tidak bersedia menuruti permintaan Suseno sebab ia merasa hanya putra dari ibu selir. Untuk menolong saudaranya,Kalipo Kusumo pun menyuruh Suseno bertapa di bawah pohon besar sebelah barat daya gunung itu.
Ternyata pohon besar yang dimaksud itu adalah pohon sawo. Oleh
 Suseno, tempat bertapa itu kemudian diberi nama Sawo, yang kini dikenal DESA SAWOO.
Maka mulailah penguasa
 Kartasura itu bertapa di bawah pohon sawo besar itu. Setelah beberapa waktu lamanya bertapa, permohonan Suseno terkabul. Keanehan lain terjadi, tempat yang diduduki Suseno untuk bersemedi, ternyata tanahnya timbul ke permukaan (numbul, bahasa jawa). Sejak itu Suseno mendapat julukan sunan Kumbul, sedangkan bekas tempat semedinya dinamakan Petilasan Sunan Kumbul.**

Sumber : http://sawoo-indah.blogspot.com/

Makna Tembang Lir-ilir

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
SIAPA tak kenal lagu Ilir-Ilir? Walaupun ini lagu Jawa, tapi hampir semua orang tahu lagu ini. Tapi tahukah Anda, apa makna lagu Ilir-Ilir?
Lir ilir bukan sekadar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan Kalijogo ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.
Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya 
Lir-ilir, lir-ilir
Tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan. 

Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.
Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya. 
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi.
Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam. 
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.
Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan. 
Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir.
Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. 
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.
Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak. 
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.
Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita. 
Yo surako surak hiyo.
Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25). [islampos/kissanak/berbagai sumber]