oke

Selasa, 09 Desember 2014

Deritanya sang ibu, apakah kita masih tidak berbakti kepadanya?


                Para ibu adalah perempuan yang dilengkapi Allah Sang pencipta dengan organ-organ tubuh yang sangat menakjubkan untuk mengemban tugas sebagai ibu. Alloh memberikan karunia berupa rahim kepada Ibu yang didalamnya terdapat dua buah indung telur yang mengandung lebih dari 250.000 sel telur yang belum matang. Setiap sel yang besarnya hanya setengah partikel garam tersebut akan matang setiap bulan tetapi dengan usia yang sangat pendek. jika sel telur tersebut dibuahi oleh sel sperma, dia akan menjadi janin, tetapi jika tidak dibuahi, sel telur tersebut akan luruh menjadi darah HAID, keluarnya haid tersebut menandakan bahwa perempuan itu menjadi dewasa dengan beban hukum yang melekat kepadanya.
            Sebelum menjadi Ibu, para perempuan harus melalui frase pernikahan terlebih dahulu sehingga menjadi Istri yang harus melayani sang suami, patuh terhadap suami, sa’at pertama melayani sang suami dia harus kembali berdarah setelah terjadi luka robekan pada selaput daranya, jika Allah menghendaki pada sa’at melayani sang suami tersebut, akan terjadi proses pembuahan yang akan menghasilkan benih janin anak manusia, yakni bertemunya sel telur dengan sel sperma  yang terpilih dari 20-500 juta sel sperma yang dipancarkan oleh suami, dan hanya satu yang akan menjadi manusia.
            Hasil pembuahan tersebut mengantarkan Istri menjadi calon ibu, yakni mengandung si  janin,selama kurang lebih 9 bulan 10 hari, dia tidak bisa menghindari rasa mual yang luar biasa yang dilanjutkan dengan muntah-muntah setiap harinya akibat berbagai adaptasi yang dilakukan tubuhnya untuk mempersiapkan kehidupan bayi dalam rahimnya.akibatnya dia merasakan tubuhnya yang melemah hari demi hari hingga bulan demi bulan selanjutnya.
            Akan tetapi tidak Cuma itu saja yang dia hadapi dan rasakan ada yang mengalami perubahan kulit yang kehitaman mual-muntah terus menerus terjadi dan bahkan lambungnya teriritasi dan terjadilah muntah darah karenanya. Ada pula yang memproduksi air ludah berlebih sehingga menambah rasa mual. Ada pula yang merasakan perubahan pada indera penciuman yang meningkat secara tajam sehingga dia sangat menderita karena sesuatu bisa tercium sangat harum atau malah sebaliknya. Memang semua itu bisa terjadi akibat perubahan hormon sang calon Ibu.
            Pada saat berat badan janin mulai bertambah dan sangat kesulitan mengatur posisi tidurnya hingga tak jarang mengalami sesak nafas, dengan kondisi fisik tersebut, tentunya secara psikis sang Ibu menjadi sangat labil dan sensitif. Tubuhnya yang melemah dan kondisi psikis yang labil dan sensitif tersebut sangat membutuhkan perhatian dan kasih saying dari para suami atau calon Bapak.
            Para Ibu, adalah perempuan yang harus meregang nyawa ketika mengejan hendak melahirkan bayinya dan kembali berdarah-darah karenanya. Rasa sakit luar biasa dialami sang calon ibu secara rutin pada saat kontraksi terjadi dalam hitungan mulai dari jam hingga menit. Betapa rasa sakit itu tak terkatakan dan sang suami dapat merasakan penandanya dari dari genggaman erat tanggan istrinya pada tanganya. Begitu bayi keluar, SUBHANALLAH, kebahagiaan karena hadirnya sang buah hati telah membuat rasa sakit sa’at mengejan itu seolah hilang begitu saja. Dan sang istri pun menjadi ibu sekarang.
            Akan tetapi, rasa sakit secara fisik belum berhenti dirasakan sang ibu, jika dia melahirkan secara normal dengan area jahitan pada jalan keluar bayi ataupun melahirkan dengan Caesar, sang ibu pun kembali merasakan sakit akibat jahitan atau operasi tersebut. Kendatipun demikian, ibu tidak menghiraukan rasa sakit tersebut. Ia tetap merawat bayinya dengan penuh kasih saying.
            Saat menyusui sang ibu kembali menahan sakit pada saat ini, proses menyusui tidak selalu berjalan dengan mudah, ada saat sang bayi bias jadi menyedotnya dengan begitu keras saat kehausan sehingga mengalir air mata sang ibu menahan sakit akibat sedotan sang bayi.sang ibu memang bias berhenti sesaat menyusui karena luka itu, tetapi dia harus rela menerima sakit itu karena demi kehidupan sang bayi yang di dambakan untuk menjadi anak yang berguna.
            Siang demi siang, malam demi malam berlangsung dengan rasa lelah sang ibu tak pernah bosan menghampiri sang ibu. Sang ibu harus rela dengan bau ompol bayinya sehingga sudah menjadi parfumnya setiap hari.
            Sang ibu juga tetap menjadi pendidik yang pertama dan utama untuk anaknya agar anaknya mengenal huruf, mengenal dan mencintai AL-QUR’AN dan ROSULnya. Sang ibu juga yang pertama kali mengajarkan adab sopan-santun pada anak-anaknya, mulai dari makan yang baik, melepas dan memakai baju, hingga mengajar kan bagaimana bergaul dengan orang di sekitarnya dengan baik dan sopan.
            Sungguh, perjuangan ibu tidak cukup sampai disitu dia tetap berdo’a di setiap sujudnya agar anaknya kelak jadi orang yang sukses dalam menggapai cita-citanya setinggi langit. Kasih sayangnya tak lekang oleh waktu dan bahkan mampu menutupi kegelisahanya akan ancaman penyakit kangker yang bisa jadi menyerang anggota tubuhnya yang dia gunakan untuk kehidupan bayinya, yakni rahim dan payudaranya.
            Lantas, apa yang kita perbuat sudah membalas pengorbanan ibu selama ini, atau bahkan menjadikan sang ibu menderita melihat tingkah kita ketika menginjak dewasa? Apakah kita sadar bahwa setiap kita pergi sekolah, ibu selalu menunggumu di rumah dengan penuh harap dan cemas, tapi apa balasan kita, kita justru bermain dengan teman hingga sore hari tak memperdulikan ibumu yang ingin melihatmu pulang dengan senyum dan istirahat dirumah, disaat umur ibumu bertambah tua dan tenaganya sudah mulai melemah dia hanya menginginkanmu untuk selalu membuatnya tersenyum, tapi apa yang kita lakukan, kita justru menambah derita sang ibu karena kita sibuk mengurus diri kita sendiri sehingga lupa dengan kasih sayang sang ibu yang telah diberikan kepada kita dengan penuh pengorbanan jiwa raga dan nyawanya.
Sumber: majalah AL-HAROMAIN EDISI BULAN DESEMBER HAL. 30.