Para
ibu adalah perempuan yang dilengkapi Allah Sang pencipta dengan organ-organ
tubuh yang sangat menakjubkan untuk mengemban tugas sebagai ibu. Alloh
memberikan karunia berupa rahim kepada Ibu yang didalamnya terdapat dua buah
indung telur yang mengandung lebih dari 250.000 sel telur yang belum matang.
Setiap sel yang besarnya hanya setengah partikel garam tersebut akan matang
setiap bulan tetapi dengan usia yang sangat pendek. jika sel telur tersebut
dibuahi oleh sel sperma, dia akan menjadi janin, tetapi jika tidak dibuahi, sel
telur tersebut akan luruh menjadi darah HAID, keluarnya haid tersebut
menandakan bahwa perempuan itu menjadi dewasa dengan beban hukum yang melekat
kepadanya.
Sebelum menjadi Ibu, para perempuan
harus melalui frase pernikahan terlebih dahulu sehingga menjadi Istri yang
harus melayani sang suami, patuh terhadap suami, sa’at pertama melayani sang
suami dia harus kembali berdarah setelah terjadi luka robekan pada selaput
daranya, jika Allah menghendaki pada sa’at melayani sang suami tersebut, akan
terjadi proses pembuahan yang akan menghasilkan benih janin anak manusia, yakni
bertemunya sel telur dengan sel sperma
yang terpilih dari 20-500 juta sel sperma yang dipancarkan oleh suami,
dan hanya satu yang akan menjadi manusia.
Hasil pembuahan tersebut
mengantarkan Istri menjadi calon ibu, yakni mengandung si janin,selama kurang lebih 9 bulan 10 hari,
dia tidak bisa menghindari rasa mual yang luar biasa yang dilanjutkan dengan
muntah-muntah setiap harinya akibat berbagai adaptasi yang dilakukan tubuhnya
untuk mempersiapkan kehidupan bayi dalam rahimnya.akibatnya dia merasakan
tubuhnya yang melemah hari demi hari hingga bulan demi bulan selanjutnya.
Akan tetapi tidak Cuma itu saja yang
dia hadapi dan rasakan ada yang mengalami perubahan kulit yang kehitaman
mual-muntah terus menerus terjadi dan bahkan lambungnya teriritasi dan
terjadilah muntah darah karenanya. Ada pula yang memproduksi air ludah berlebih
sehingga menambah rasa mual. Ada pula yang merasakan perubahan pada indera
penciuman yang meningkat secara tajam sehingga dia sangat menderita karena
sesuatu bisa tercium sangat harum atau malah sebaliknya. Memang semua itu bisa
terjadi akibat perubahan hormon sang calon Ibu.
Pada saat berat badan janin mulai
bertambah dan sangat kesulitan mengatur posisi tidurnya hingga tak jarang
mengalami sesak nafas, dengan kondisi fisik tersebut, tentunya secara psikis
sang Ibu menjadi sangat labil dan sensitif. Tubuhnya yang melemah dan kondisi
psikis yang labil dan sensitif tersebut sangat membutuhkan perhatian dan kasih
saying dari para suami atau calon Bapak.
Para Ibu, adalah perempuan yang
harus meregang nyawa ketika mengejan hendak melahirkan bayinya dan kembali
berdarah-darah karenanya. Rasa sakit luar biasa dialami sang calon ibu secara
rutin pada saat kontraksi terjadi dalam hitungan mulai dari jam hingga menit.
Betapa rasa sakit itu tak terkatakan dan sang suami dapat merasakan penandanya
dari dari genggaman erat tanggan istrinya pada tanganya. Begitu bayi keluar,
SUBHANALLAH, kebahagiaan karena hadirnya sang buah hati telah membuat rasa
sakit sa’at mengejan itu seolah hilang begitu saja. Dan sang istri pun menjadi
ibu sekarang.
Akan tetapi, rasa sakit secara fisik
belum berhenti dirasakan sang ibu, jika dia melahirkan secara normal dengan
area jahitan pada jalan keluar bayi ataupun melahirkan dengan Caesar, sang ibu
pun kembali merasakan sakit akibat jahitan atau operasi tersebut. Kendatipun
demikian, ibu tidak menghiraukan rasa sakit tersebut. Ia tetap merawat bayinya
dengan penuh kasih saying.
Saat menyusui sang ibu kembali
menahan sakit pada saat ini, proses menyusui tidak selalu berjalan dengan
mudah, ada saat sang bayi bias jadi menyedotnya dengan begitu keras saat
kehausan sehingga mengalir air mata sang ibu menahan sakit akibat sedotan sang
bayi.sang ibu memang bias berhenti sesaat menyusui karena luka itu, tetapi dia
harus rela menerima sakit itu karena demi kehidupan sang bayi yang di dambakan
untuk menjadi anak yang berguna.
Siang demi siang, malam demi malam
berlangsung dengan rasa lelah sang ibu tak pernah bosan menghampiri sang ibu.
Sang ibu harus rela dengan bau ompol bayinya sehingga sudah menjadi parfumnya
setiap hari.
Sang ibu juga tetap menjadi pendidik
yang pertama dan utama untuk anaknya agar anaknya mengenal huruf, mengenal dan
mencintai AL-QUR’AN dan ROSULnya. Sang ibu juga yang pertama kali mengajarkan
adab sopan-santun pada anak-anaknya, mulai dari makan yang baik, melepas dan
memakai baju, hingga mengajar kan bagaimana bergaul dengan orang di sekitarnya
dengan baik dan sopan.
Sungguh, perjuangan ibu tidak cukup
sampai disitu dia tetap berdo’a di setiap sujudnya agar anaknya kelak jadi
orang yang sukses dalam menggapai cita-citanya setinggi langit. Kasih sayangnya
tak lekang oleh waktu dan bahkan mampu menutupi kegelisahanya akan ancaman
penyakit kangker yang bisa jadi menyerang anggota tubuhnya yang dia gunakan
untuk kehidupan bayinya, yakni rahim dan payudaranya.
Lantas, apa yang kita perbuat sudah
membalas pengorbanan ibu selama ini, atau bahkan menjadikan sang ibu menderita
melihat tingkah kita ketika menginjak dewasa? Apakah kita sadar bahwa setiap
kita pergi sekolah, ibu selalu menunggumu di rumah dengan penuh harap dan
cemas, tapi apa balasan kita, kita justru bermain dengan teman hingga sore hari
tak memperdulikan ibumu yang ingin melihatmu pulang dengan senyum dan istirahat
dirumah, disaat umur ibumu bertambah tua dan tenaganya sudah mulai melemah dia
hanya menginginkanmu untuk selalu membuatnya tersenyum, tapi apa yang kita
lakukan, kita justru menambah derita sang ibu karena kita sibuk mengurus diri
kita sendiri sehingga lupa dengan kasih sayang sang ibu yang telah diberikan
kepada kita dengan penuh pengorbanan jiwa raga dan nyawanya.
Sumber:
majalah AL-HAROMAIN EDISI BULAN DESEMBER HAL. 30.
