oke

Minggu, 06 September 2015

Mars INSURI Ponorogo



Marilah INSURI bergeraklah maju
Sebagai tunas harapan bangsa
Abdikan dirimu curahkan tenagamu
Menggapai cita-citamu


Jadilah manusia yang berguna
Untuk nusa bangsa dan agama
Dengan bekal iman serta ketaqwaan
Berjuanglah dijalan islam
Dan jangan lupakan pada pengabdian
Menunjang pembangunan negara


Insuri bertekad menjunjung martabat
Dan derajat manusia yang mulya
Selalu menegakkan dan giat amalkan
Pancasila secara nyata
(Serta tetap membela nusa dan bangsa
INSURI tetaplah jaya).........(2x)

Selasa, 17 Maret 2015

teks liryk sholawat

KISAH SANG ROSUL
Rohatil athyaru tasydu, fi (bi) layaa lil maulidi,
(Burung-burung berkicauan teramat bahagia di malam kelahiran Baginda Nabi SAW)
wa bariqunnuri yabdu, min ma’aani Ahmadi2x
(Dan kilatan cahaya terpancarkan penuh makna-makna dari Ahmad, yakni Baginda Nabi SAW)
fi (bi) layaa lil maulidi2x (dimalam kelahiran Baginda Nabi SAW)

Abdullah nama ayahnya Aminah ibundanya
Abdul Muthallib kakeknya Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia Dari Quraisy ternama
Inilah kisah Sang Rasul Yang penuh suka duka2X
Ooh penuh suka duka ...2x

reff #

Selasa, 03 Maret 2015

Asal mula Desa Sawoo

Cerita ini adalah cerita asal-usul gunung bayangkaki dan petilasan Kumbul yang ada di kecamatan Sawoo Ponorogo yang saya kutip dari sebuah buku yang berjudul “Mengenal Potensi dan Dinamika Ponorogo” 1993, dan gambar saya ambil dari google earth yang tampak dari atas. Semoga cerita ini dapat menambah wawasan kita tentang sejarah asal-usul suatu daerah dan tempat. Selamat membaca.”
Alkisah, seorang pengembara bernama Eyang Kalipo Kusumo dari keraton Kartasuramengadakan perjalanan ke wilayah timur, disertai beberapa orang pengikutnya. Setelah beberapa saat mengembara di wilayah timur, beliau timbul hasrat untu melaksanakan semedi di wilayah pegunungan. Dari sekian banyak gunung yang berada di wilayah timur, Eyang Kalipo Kusumo tertarik dengan sebentuk gunung yang agak aneh. Yakni, bentuknya selalu jika dilihat dari sudut pandang yang berlainan. Maka berangkatlah Eyang Kalipo Kusumo bersama pengikutnya ke gunung tersebut.
Di suatu tempat, Kalipo Kusumo beristirahat. Sesekali lagi beliau memandang gunung itu, namun kali ini dengan pandangan yang tajam (
mandeng, bahasa jawa). Dari peristiwa tersebut, tempat beristirahat itu kemudian diberi nama Ngindeng, yang kini dikenal dengan nama DESA NGINDENG.

Setelah beristirahat sejenak, Kalipo Kusumo meneruskan perjalanan mendaki gunung. Namun belum sampai tujuan, beliau tidak kuat lagi berjalan. Oleh ketiga pengikutnya, yakni Hadi Ronggo, Hadi Mulyo dan Hadi Dumeling, Kalipo Kusumo pun dibayang (digotong) menuju ke sebuah gua dilereng gunung. Di gua itulah Kalipo Kusumo melaksanakan semedinya, dan sekaligus menghabiskan sisa umurnya. Pada ketiga orang pengikutnya, Kalipo Kusumoberpesan, agar kelak dimakamkan di puncak gunung tersebut. Ketika kalipo Kusumo wafat, ketiga orang pengikutnya lalu menuruti wasiat terakhir gurunya. Perjalanan membawa jenazahKalipo Kusumo itu cukup berat. Dengan kondisi jalan setapak dan lereng yang terjal, mereka membawa jenazah dengan cara dibayang antara kakai dan kepala jenazah. Dan peristiwa tersebut gunung itu kemudian diberi nama GUNUNG BAYANGKAKI.

Sedangkan petilasan
 Sunan kumbul yang terdapat di desa Sawoo bermula dari huru-hara di Keraton Kartasura. Penguasa Kaerasura pada waktu itu, Eyang Suseno merasa terpojok karena tak mampu mengembalikan hutang pada bangsa Cina. Suseno mempunyai kebiasaan yang buruk, yakni gemar menghisap candu yang diperolehnya dengan cara hutang kepada bangsa Cina. Makin lama hutang itu makin membengkak. Bahkan bangsa Cina menuntut sebagian tanah keraton untuk pengembalian hutang.
Dalam keadaan terdesak,
 Suseno melarikan diri kearah timur untuk mencari saudaranya,Kalipo Kusumo, yang sedang pergi mengembara. Singkat cerita kedua orang bersaudara itu bertemu digoa tempta pertapaan Kalipo Kusumo. Dalam pertemuan itu Suseno menceritakan semua persoalannya, bahkan mengharap agar Kalipo Kusumo segera pulang ke Kartasura, menggantikan kedudukannya sebagai raja. Namun Kalipo Kusumo tidak bersedia menuruti permintaan Suseno sebab ia merasa hanya putra dari ibu selir. Untuk menolong saudaranya,Kalipo Kusumo pun menyuruh Suseno bertapa di bawah pohon besar sebelah barat daya gunung itu.
Ternyata pohon besar yang dimaksud itu adalah pohon sawo. Oleh
 Suseno, tempat bertapa itu kemudian diberi nama Sawo, yang kini dikenal DESA SAWOO.
Maka mulailah penguasa
 Kartasura itu bertapa di bawah pohon sawo besar itu. Setelah beberapa waktu lamanya bertapa, permohonan Suseno terkabul. Keanehan lain terjadi, tempat yang diduduki Suseno untuk bersemedi, ternyata tanahnya timbul ke permukaan (numbul, bahasa jawa). Sejak itu Suseno mendapat julukan sunan Kumbul, sedangkan bekas tempat semedinya dinamakan Petilasan Sunan Kumbul.**

Sumber : http://sawoo-indah.blogspot.com/

Makna Tembang Lir-ilir

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
SIAPA tak kenal lagu Ilir-Ilir? Walaupun ini lagu Jawa, tapi hampir semua orang tahu lagu ini. Tapi tahukah Anda, apa makna lagu Ilir-Ilir?
Lir ilir bukan sekadar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan Kalijogo ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.
Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya 
Lir-ilir, lir-ilir
Tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan. 

Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.
Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya. 
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi.
Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam. 
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.
Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan. 
Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir.
Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. 
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.
Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak. 
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.
Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita. 
Yo surako surak hiyo.
Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25). [islampos/kissanak/berbagai sumber]


Minggu, 01 Maret 2015


Al Qur'an adalah kitab suci umat muslim, Al-Quran pertama kali yang dikenal sebagai Nuzulul Quran terjadi pada 17 Ramadhan.

Al-Quran ada dua tahap, yaitu :

1. Dari lauhil mahfuz ke sama' (langit) dunia secara sekaligus pada malam lailatul qadar :

Hal ini dipertegas dengan Firman Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185 :
"bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)" Al-Baqarah : 185
Diperkuat dengan pernyataan Ibnu Abbas dan pengikutnya bahwa proses turunnya Al-Quran dari baitul izzah ke langit dunia itu  dunia pada malam lailatul qodar.

2. Dari sama' (langit) dunia secara berangsur-angsur.

Para ulama Islam sangat memahami bahwa Proses turunnya Al-Quran kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara Malaikat Jibril tidaklah sekaligus dalam bentuk satu kitab sperti yang kita lihat sekarang. Al-Quran diturunkan secara bertahap, terkadang hanya satu ayat, terkadang beberapa ayat, namun ada juga yang turun satu surat sekaligus.

Proses turunnya Al-Quran dari langit dunia ke bumi menurut satu riwayat AL-Quran diturun dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu dari malam 17 ramadhan, saat Nabi berusia 40 tahun, sampai dengan 9 dzulhijjah pada haji wada', saat usia Nabi Muhammad 63 tahun, 10 H.
Surah yang pertama kali di turun kan adalah Q.s.al-`Alaq : 1-5 di gua hiro, menurut hadist mengatakan:

Al Qur'an mempunyai perhitungan tentang jumlah ayat atau juz pada al qur'an tersebut :

1. Jumlah Juz : 30 Juz

2. Jumlah surat : 114 surat

3. Jumlah Halaman : 604 halaman (rata-rata untuk quran yang awal dan akhir surat hanya dalam halaman yang sama)

4. Rata-rata jumlah ayat dalam satu halaman = 6236 / 604 = 10.33

5. Rata-rata jumlah ayat dalam satu juz = 6236 / 30 = 207.87

Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar diwaktu tidur. Dia melihat dimimpi itu datangnya bagaikan terangnya dipagi hari. Kemudian dia suka menyendiri, dia pergi kegua Hira` untuk beribadah beberapa malam. Untuk itu ia membawa bekal, kemudian ia pulang kepada Khadijah r.a maka Khadijah membekali seperti bekal yang dulu. Di gua Hira` dia dikejutkan oleh suatu kebenaran. Seorang malaikat datan kepadanya dan mengatakan : ` Bacalah` Rasulullah SAW menceritakan, maka akupun menjawab `aku tidak pandai membaca` . malaikat tersebut kemudian memelukku sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi ` Bacalah`! maka akupun menjawab `Aku tidak pandai membaca`. Kemudian dia merangkulku dengana kedua kali, sehingga aku merasa amat payah. Kemudian ia lepaskan lagi, dan berkata ` Bacalah` Aku menjawab ` aku tidak pandai membaca` maka ia merangkulku untuk ketiga kali, sehinggga aku kepayahan, kemudian ia berkata ` Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan samapi dengan Apa yang tidak diketahuinya`, ( Hadis )



Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain:
1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.
2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.
3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.
Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin.
4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.
Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril.
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat.

Nah itu adalah ringkasan tentang al qur'an yang saya buat bila ada yang keliru harap untuk menegur saya, karena itu adalah tugas kalian bagi seorang pembaca yang baik, semoga bermanfaat artikel kali ini.

sumber: 
http://tentangpr.blogspot.com/






Makna Tembang Macapat

makna tembang macat
1. Maskumambang
Adalah gambaran dimana manusia masih di
alam ruh, yang kemudian ditanamkan dalam
rahim/ gua garba ibu kita. Dimana pada waktu
di alam ruh ini Allah SWT telah bertanya pada
ruh-ruh kita: “Alastu Bi Robbikum”, “Bukankah
AKU ini Tuhanmu”,
2. Mijil
Merupakan ilustrasi dari proses kelahiran
manusia, mijil/mbrojol/mencolot dan keluarlah
jabang bayi bernama manusia
3. Sinom
Adalah lukisan dari masa muda, masa yang
indah, penuh dengan harapan dan angan-angan.
4. Kinanthi
Masa pembentukan jatidiri dan meniti jalan
menuju cita-cita. Kinanti berasal dari kata
kanthi atau tuntun yang bermakna bahwa kita
membutuhkan tuntunan atau jalan yang benar
agar cita-cita kita bisa terwujud.
5. Asmarandana
Menggambarkan masa-masa dirundung asmara,
dimabuk cinta, ditenggelamkan dalam lautan
kasih. Asmara artinya cinta, dan Cinta adalah
ketulusan hati, meminjam istilahnya kang Ebiet
G.Ade dalam lagunya: “ Cinta Yang Kuberi
Setulus Hatiku Entah Apa Yang Kuterima Aku
Tak Peduli”.
6. Gambuh
Awal kata gambuh adalah jumbuh / bersatu
yang artinya komitmen untuk menyatukan cinta
dalam satu biduk rumah tangga. Dan inti dari
kehidupan berumah tangga itu yaitu: “ Hunna Li
Baasulakum, Wa Antum Libaasu Lahun”, “Istri-
istrimu itu merupakan pakaian bagimu, dan
kamu adalah merupakan pakaian baginya”.
7. Dhandhanggula
Gambaran dari kehidupan yang telah mencapai
tahap kemapanan sosial, kesejahteraan telah
tercapai, cukup sandang, papan dan pangan
(serta tentunya terbebas dari hutang piutang).
Kurangi Keinginan Agar Terjauh Dari Hutang,
sebab kata Iwan Fals: “ Keinginan adalah
sumber penderitaan ”
8. Durma
Sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada
Allah maka kita harus sering berderma, durma
berasal dari kata darma / sedekah berbagi
kepada sesama.
9. Pangkur
Pangkur atau mungkur artinya menyingkirkan
hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang
menggerogoti jiwa kita.
10. Megatruh
Megatruh atau megat roh berarti terpisahnya
nyawa dari jasad kita, terlepasnya Ruh / Nyawa
menuju keabadian (entah itu keabadian yang
Indah di Surga, atau keabadian yang Celaka
yaitu di Neraka).
11. Pocung (Pocong / dibungkus kain mori
putih)
Manakala yang tertinggal hanyalah jasad belaka,
dibungkus dalam balutan kain kafan / mori
putih, diusung dipanggul laksana raja-raja, itulah
prosesi penguburan jasad kita menuju liang
lahat, rumah terakhir kita didunia.
“ Innaka Mayyitun Wainnahum Mayyituuna “, “
Sesungguhnya kamu itu akan mati dan mereka
juga akan mati”.
Semoga bermanfaat

Sabtu, 03 Januari 2015

Diklatsar Banser PAC.Gerakan Pemuda Ansor Sawoo Ponorogo

Awal tahun 2015 merupakan awal perubahan perjuangan bagi BANSER Pimpinan Anak Cabang Kec. Sawoo tepatnya tanggal 1-5 Januari bertempat di SMP Ma'arif -9 Grogol Sawoo , Banser kec. Sawoo mengadakan Pelatihan dasar Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) yang diikuti 47 peserta dari berbagai Desa di Kec. Sawoo yang mempunyai umur rata-rata 17-25 tahun.
Acara yang bertemakan  "menggeser kesadaran dari jami'ah menuju Harakah" tersebut dibuka dengan dihadiri oleh tokoh masyarakat Desa Grogol oleh KORAMIL,POLSEK dan kec. Sawoo.

Sejak hari pertama, peserta mendapatkan pendidikan semi militer dari beberapa Instruktur BANSER Pimpinan cabang Ponorogo  hal ini mengakibatkan peserta pada awalnya tidak sedikit yang tidak betah untuk mengikuti dan izin pulang diklat ada dengan berbgai alasan diantaranya mengikuti acara dirumah dan ada juga yang ingin melanjutkan pekerja'anya tapi dengan berbagai  motivasi dari segenap panitia. walaupun ada beberapa yang pulang akhirnya peserta diklat bisa semangat kembali melanjutkan lagi pelatihanya.

" acara Diklatsar banser kec. Sawoo selain untuk mengisi kegiatan ke banseran, dilaksanakan dengan maksud untuk mendidik karakter dan mental para peserta yang selama ini kurang adanya kegiatan positif di kalangan remaja kec. Sawoo" kata Edi Suryono selaku ketua PAC. GP Ansor Kec. Sawoo. memang betul acara tersebut sangat baik dan bermanfa'at bagi pemuda kec. Sawoo khususnya para pemuda karena selain mendidik disiplin,karakter,mental selama dalam pelatihan peserta juga di gembleng untuk menjadi pribadi yang mandiri, tegas, disiplin bertanggung jawab yang nantinya menjadi kader-kader penerus                perjuangan para ULAMA  yang pada jaman dulu ikut terlibat dalam merebut kemerdekaan Indonesia.
"memang pada awalnya seperti tidak kuat, ketika makan di bentak sampai-sampai piring berbunyi saja suruh puss up 10 kali, dan juga harus jongkok, materi lapangan dan ruangan istirahat sebentar malam bangun, tapi itu semua untuk mendidik pribadiku dan sahabat-sahabat peserta lainya" kata salah Habib satu peserta diklat dari utusan MA AL-IMAM Sawoo. berbeda dengan peserta yang belum pernah mengikuti diklat apapun memang peserta pada awalnya ngedrop mentalnya karena sangat bertolak belakang dengan kebiasaanya yang hanya keluyuran tidak jelas.

Acara Diklatsar Banser kec. Sawoo di tutup pada hari Senin pagi disertakan pembaiatan sebagai peserta Barisan Ansor Serbaguna yang siap menjadi kader NU, yang membentengi para ULAMA dalam menegakkan panji-panji ISLAM dan siap menjaga kedaulatan NKRI.