sehubungan kegiatan menyambut lebaran 1440 H. PAC GP Ansor kecamatan Sawoo mendirikan Posko Lebaran terpadu, dengan bertujuan untuk memantau, memfasilitasi dan melayani para pemudik utamanya yang melewati jalur nasional jalan raya Ponorogo-Trenggalek . "selain kegiatan posko kami juga melakukan pengamanan jalan di masjid terdekat menjelang tarawih dan sebelum tarawih pada H- lebaran" ujar Jaka Irawan Ketua PAC GP ANSOR SAWOO. semoga kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat dan umat yang melakukan mudik pada hari raya Idul Fitri 1440 H.
GEMBIRA
Generasi Memang Brilian Rajin Dan Aktif
daftar isi laman
oke
Senin, 27 Mei 2019
Jumat, 18 Agustus 2017
Giat BANSER Sawoo dalam memperingati HUT RI Ke-72
Suasana hari kemerdekaan republik indonesia yang ke 72 sangat meriah dengan penuh suka cita dalam menyambutnya, tak ketinggakan Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) kec. sawoo ikut mengisi kemerdekaan tersebut dengan antusias mengikuti rangkaian acara dari Upacara pengibaran sang saka merah putih hingga penurunan bendera. semua dilakukan atas dasar cinta \tanah air dan semangat menjaga keutuhan NKRI. Selain itu selepas upacara Banser juga berfoto bersama kesenian reog ponorogo bukti banser mencintai budaya PONOROGO.Rabu, 16 November 2016
Minggu, 06 September 2015
Mars INSURI Ponorogo
Marilah
INSURI bergeraklah maju
Sebagai
tunas harapan bangsa
Abdikan
dirimu curahkan tenagamu
Menggapai
cita-citamu
Jadilah manusia yang berguna
Untuk nusa bangsa dan agama
Dengan bekal iman serta ketaqwaan
Berjuanglah dijalan islam
Dan jangan lupakan pada pengabdian
Menunjang pembangunan negara
Insuri
bertekad menjunjung martabat
Dan derajat
manusia yang mulya
Selalu
menegakkan dan giat amalkan
Pancasila
secara nyata
(Serta tetap membela nusa dan bangsa
INSURI tetaplah jaya).........(2x)
Selasa, 17 Maret 2015
teks liryk sholawat
KISAH SANG ROSUL
Rohatil athyaru tasydu, fi (bi) layaa lil
maulidi,
(Burung-burung berkicauan teramat bahagia di malam kelahiran Baginda Nabi SAW)
wa bariqunnuri yabdu, min ma’aani Ahmadi2x
(Dan kilatan cahaya terpancarkan penuh makna-makna dari Ahmad, yakni Baginda Nabi SAW)
(Burung-burung berkicauan teramat bahagia di malam kelahiran Baginda Nabi SAW)
wa bariqunnuri yabdu, min ma’aani Ahmadi2x
(Dan kilatan cahaya terpancarkan penuh makna-makna dari Ahmad, yakni Baginda Nabi SAW)
fi (bi) layaa lil maulidi2x (dimalam kelahiran
Baginda Nabi SAW)
Abdullah nama ayahnya Aminah ibundanya
Abdul Muthallib kakeknya Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia Dari Quraisy ternama
Inilah kisah Sang Rasul Yang penuh suka duka2X
Ooh penuh suka duka ...2x
reff #
Abdul Muthallib kakeknya Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia Dari Quraisy ternama
Inilah kisah Sang Rasul Yang penuh suka duka2X
Ooh penuh suka duka ...2x
reff #
Selasa, 03 Maret 2015
Asal mula Desa Sawoo
Cerita ini adalah
cerita asal-usul gunung bayangkaki dan petilasan
Kumbul yang ada di kecamatan Sawoo
Ponorogo yang saya kutip dari sebuah buku yang berjudul “Mengenal Potensi dan Dinamika Ponorogo” 1993, dan gambar saya
ambil dari google earth yang tampak dari atas. Semoga cerita ini dapat menambah
wawasan kita tentang sejarah asal-usul suatu daerah dan tempat. Selamat
membaca.”
Alkisah, seorang
pengembara bernama Eyang Kalipo Kusumo dari keraton Kartasuramengadakan perjalanan ke wilayah timur,
disertai beberapa orang pengikutnya. Setelah beberapa saat mengembara di
wilayah timur, beliau timbul hasrat untu melaksanakan semedi di wilayah
pegunungan. Dari sekian banyak gunung yang berada di wilayah timur, Eyang Kalipo
Kusumo tertarik dengan
sebentuk gunung yang agak aneh. Yakni, bentuknya selalu jika dilihat dari sudut
pandang yang berlainan. Maka berangkatlah Eyang Kalipo Kusumo bersama pengikutnya ke gunung tersebut.
Di suatu tempat, Kalipo Kusumo beristirahat. Sesekali lagi beliau memandang gunung itu, namun kali ini dengan pandangan yang tajam (mandeng, bahasa jawa). Dari peristiwa tersebut, tempat beristirahat itu kemudian diberi nama Ngindeng, yang kini dikenal dengan nama DESA NGINDENG.
Di suatu tempat, Kalipo Kusumo beristirahat. Sesekali lagi beliau memandang gunung itu, namun kali ini dengan pandangan yang tajam (mandeng, bahasa jawa). Dari peristiwa tersebut, tempat beristirahat itu kemudian diberi nama Ngindeng, yang kini dikenal dengan nama DESA NGINDENG.
Setelah beristirahat
sejenak, Kalipo Kusumo meneruskan perjalanan mendaki gunung. Namun belum sampai tujuan,
beliau tidak kuat lagi berjalan. Oleh ketiga pengikutnya, yakni Hadi Ronggo, Hadi Mulyo dan Hadi Dumeling, Kalipo Kusumo pun dibayang (digotong) menuju ke sebuah gua dilereng
gunung. Di gua itulah Kalipo Kusumo melaksanakan semedinya, dan sekaligus menghabiskan sisa umurnya.
Pada ketiga orang pengikutnya, Kalipo Kusumoberpesan, agar kelak dimakamkan di puncak gunung tersebut.
Ketika kalipo Kusumo wafat, ketiga orang pengikutnya lalu menuruti wasiat terakhir
gurunya. Perjalanan membawa jenazahKalipo Kusumo itu cukup berat. Dengan kondisi jalan setapak
dan lereng yang terjal, mereka membawa jenazah dengan cara dibayang antara kakai dan kepala jenazah. Dan peristiwa
tersebut gunung itu kemudian diberi nama GUNUNG BAYANGKAKI.
Sedangkan petilasan Sunan kumbul yang terdapat di desa Sawoo bermula dari huru-hara di Keraton Kartasura. Penguasa Kaerasura pada waktu itu, Eyang Suseno merasa terpojok karena tak mampu mengembalikan hutang pada bangsa Cina. Suseno mempunyai kebiasaan yang buruk, yakni gemar menghisap candu yang diperolehnya dengan cara hutang kepada bangsa Cina. Makin lama hutang itu makin membengkak. Bahkan bangsa Cina menuntut sebagian tanah keraton untuk pengembalian hutang.
Dalam keadaan terdesak, Suseno melarikan diri kearah timur untuk mencari saudaranya,Kalipo Kusumo, yang sedang pergi mengembara. Singkat cerita kedua orang bersaudara itu bertemu digoa tempta pertapaan Kalipo Kusumo. Dalam pertemuan itu Suseno menceritakan semua persoalannya, bahkan mengharap agar Kalipo Kusumo segera pulang ke Kartasura, menggantikan kedudukannya sebagai raja. Namun Kalipo Kusumo tidak bersedia menuruti permintaan Suseno sebab ia merasa hanya putra dari ibu selir. Untuk menolong saudaranya,Kalipo Kusumo pun menyuruh Suseno bertapa di bawah pohon besar sebelah barat daya gunung itu.
Ternyata pohon besar yang dimaksud itu adalah pohon sawo. Oleh Suseno, tempat bertapa itu kemudian diberi nama Sawo, yang kini dikenal DESA SAWOO.
Maka mulailah penguasa Kartasura itu bertapa di bawah pohon sawo besar itu. Setelah beberapa waktu lamanya bertapa, permohonan Suseno terkabul. Keanehan lain terjadi, tempat yang diduduki Suseno untuk bersemedi, ternyata tanahnya timbul ke permukaan (numbul, bahasa jawa). Sejak itu Suseno mendapat julukan sunan Kumbul, sedangkan bekas tempat semedinya dinamakan Petilasan Sunan Kumbul.**
Sedangkan petilasan Sunan kumbul yang terdapat di desa Sawoo bermula dari huru-hara di Keraton Kartasura. Penguasa Kaerasura pada waktu itu, Eyang Suseno merasa terpojok karena tak mampu mengembalikan hutang pada bangsa Cina. Suseno mempunyai kebiasaan yang buruk, yakni gemar menghisap candu yang diperolehnya dengan cara hutang kepada bangsa Cina. Makin lama hutang itu makin membengkak. Bahkan bangsa Cina menuntut sebagian tanah keraton untuk pengembalian hutang.
Dalam keadaan terdesak, Suseno melarikan diri kearah timur untuk mencari saudaranya,Kalipo Kusumo, yang sedang pergi mengembara. Singkat cerita kedua orang bersaudara itu bertemu digoa tempta pertapaan Kalipo Kusumo. Dalam pertemuan itu Suseno menceritakan semua persoalannya, bahkan mengharap agar Kalipo Kusumo segera pulang ke Kartasura, menggantikan kedudukannya sebagai raja. Namun Kalipo Kusumo tidak bersedia menuruti permintaan Suseno sebab ia merasa hanya putra dari ibu selir. Untuk menolong saudaranya,Kalipo Kusumo pun menyuruh Suseno bertapa di bawah pohon besar sebelah barat daya gunung itu.
Ternyata pohon besar yang dimaksud itu adalah pohon sawo. Oleh Suseno, tempat bertapa itu kemudian diberi nama Sawo, yang kini dikenal DESA SAWOO.
Maka mulailah penguasa Kartasura itu bertapa di bawah pohon sawo besar itu. Setelah beberapa waktu lamanya bertapa, permohonan Suseno terkabul. Keanehan lain terjadi, tempat yang diduduki Suseno untuk bersemedi, ternyata tanahnya timbul ke permukaan (numbul, bahasa jawa). Sejak itu Suseno mendapat julukan sunan Kumbul, sedangkan bekas tempat semedinya dinamakan Petilasan Sunan Kumbul.**
Sumber : http://sawoo-indah.blogspot.com/
Langganan:
Komentar (Atom)



